Pages

Monday, May 30, 2011

Nongkrong Cantik di Hari Minggu

Rijika, hari Minggu melakukan apa? *

Hari Minggu kemarin, saya bangun pagi #penting #biasanyabangunsiang. Saya sudah niat mau ke Jakarta, ngajar di Taman Ilmu Setiabudi. Setelah beberapa minggu absen karena kesini kesitu, begini dan begitu, akhirnya kemarin kesampaian juga ketemu lagi sama anak-anak kecil lucu dan bandel-bandel itu... :D

Sebelumnya saya janjian dulu sama teman saya si bulet ini, ceritanya saya mau lihat kosan dia yang baru di daerah Karbela. Awalnya saya mau naik Transjakarta koridor 6 (sekalian nyoba, mumpung belum pernah) transit dan lanjut ke koridor yang lewat daerah Kuningan itu. Harusnya saya turun di Komdak atas, eh tapi kok ketiduran. Dan baru siuman dari tidur setelah Komdak lewat begitu saja. Akhirnya turunlah saya di Polda.

Ya sudah, saya naik P66 akhirnya, dan turun di Setiabudi One. Setelah telpon dan dijemput si bulet, kita beli sarapan ketupat sayur dulu sebelum ngajar. Sambil sarapan, saya ikut mendengarkan obrolan mas-mas yang sarapan di sebelah saya (catet, mendengarkan bukan menguping). Dia cerita ke temannya, kemarin malamnya habis futsal di Kuningan. Dan menurut dia, bayarnya cukup mahal karena sejamnya 400 ribu rupiah dan yang datang futsal cuma sedikit. Jadi lumayan besar patungannya.

Selesai sarapan, saya jadi ngobrol sama mpit. "Nanti kita bisnis lapangan futsal aja. Sekalian kosan cowok". Dan mpit juga setuju. Err...berasa man hunter sekali kita. Ya maklumlah, jiwa-jiwa muda, single dan menggelora *kok saya jijik sendiri sama bahasa di postingan kali ini ya*.

Setelah ngajar kelar, kita meluncur ke Senayan City. Belanja sekalian makan di Spageddies Italian Kitchen. Tempatnya cukup enak, bernuansa Itali dengan ornamen dedaunan plastik yang menjalar di tembok. Dan banyak pigura berisi testimoni dan tandatangan artis yang makan disitu (kok nama saya gak ada, saya kan artis!!! #diceburinkekawah).


Saya pesan Soup of the Day, yang ternyata hari itu adalah Mushroom Cream Soup. Rasanya creamy sekali dengan sedikit tendangan rasa jamur #halahbanget. Agak aneh di lidah saya sih, berasa makan bubur jamur. Selain itu saya pesan Chicken Spaghetti Primavera. Waktu makanan datang, lumayan juga porsi dan penampilannya. Seperti spageti ala oglio yang dimasak ditambahi dengan potongan ayam, sayuran dan taburan cabe kering. Dan bagaimana dengan rasanya? Enaaaakkk...yang jelas saya sih suka. Kalau mpit sih pesan cannelloni-sesuatu-saya-lupa-namanya. Rasanya enak juga, cheesy dan creamy, tapi saya sih lebih suka pilihan menu saya :))

Dan untuk minumnya, ada beberapa pilihan minuman beralkohol #iyasayatau #bukanuntukkonsumsisaya, soda dan jus. Pilihan kami berdua jatuh pada jus jeruk, yang ternyata setelah diminum saya nyeletuk, "ini kok kayak pulpy orange". Errr....

Harga makanan disini cukup variatif, mulai dari 10k untuk sup yang saya beli, 40-100k untuk menu pasta. Ada juga menu steak dengan harga variatif juga, di bawah 100k sampai diatas 100k. Dan bagi yang tidak mengonsumsi alkohol, wine untuk saus steak bisa diganti dengan saus jamur.

Sorenya kita ke Setiabudi One, nyoba nongkrong di Anomali Coffee yang pernah kita baca reviewnya di Tumblr *lupa lagi linknya, dooh*. Walaupun saya bukan pecinta kopi, tapi menurut saya kopinya lumayan. Suasana kafenya cozy dan ada free wi-fi. Asik buat nongkrong sendirian nyari inspirasi atau rame-rame sama teman ngobrolin urusan negara :)


Menikmati kopi sambil lihat kendaraan lalu lalang di Rasuna Said sudah, kita beranjak cari makan. Ada beberapa pilihan PKL, tapi saya sedang malas makan berat. Akhirnya kita malah ngglinding ke Kuningan Village. Oke, saya jalan dan mpit ngglinding #ditabokmpit :D

Kita berdua dengan sotoynya naik ke lantai 2. Dan di ujung tangga ke atas itu ada 2 orang mas-mas yang lihat kita dengan pandangan aneh. Eh, ternyata lantai 2 itu lokasinya The 3 House bistro and bar. Pantas aja tampak janggal. Masa iya 2 orang cewek berjilbab mau ngebir di bar -__-"

Akhirnya kita turun ke bawah, nah disitulah foodcourtnya berada. Tempat makannya bisa milih di teras luar atau taman, atau di dalam. Kita sih milih di dalam, ada AC jadinya lebih adem. Di tempat ini juga free wi-fi *yaaayy \(^_^)/*. Dan setelah tidak kenyang makan dimsum enak seharga 15 ribuan isi 3 potong, saya pun pulang :D




* biasanya tiap meeting Senin pagi si menejer suka nanya ke anak buahnya hari Sabtu-Minggu kemana. Jarang sih saya ditanya-tanya, tapi sekalinya nanya dia pasti kesusahan menyebut nama saya dengan benar. Eh, tapi pagi ini dia gak nanya ke anak-anak buahnya tuh

Thursday, May 26, 2011

Traveling Tanpa Oleh-Oleh?

Tema postingan saya kali ini mirip sama yang sudah pernah dibahas di milis IBP, yaitu mengenai oleh-oleh.

Definisi oleh-oleh:
sesuatu yg dibawa dr bepergian; buah tangan:


ini maksudnya foto toko oleh-oleh

Sebagai penyuka traveling, wajar rasanya kalau beli oleh-oleh untuk keluarga di rumah, sahabat/teman, rekan kantor atau special someone, sometwo, somethree dst... :hammer:

Kenapa saya bilang wajar, ya karena tidak semua orang berpikiran traveling-wajib-bawa-oleh-oleh. Ada yang bilang, memberi oleh-oleh itu wujud perhatian kepada orangtua, teman, rekan kerja atau orang terdekat kita. Ya gak salah juga, tiap orang pendapatnya beda-beda. Ada yang menganggap seperti itu. Ada juga yang menganggap bukti perhatian itu tidak harus dalam bentuk oleh-oleh sepulang dari traveling. Kalau misalnya, si traveler kebetulan waktu traveling kelupaan membeli, apa orang terdekatnya akan menganggap dia kurang perhatian gitu?

Saya sendiri, menganggap bahwa oleh-oleh itu bukan fardhu ain hukumnya. Apalagi saya tipikal gembel traveler yang biasanya cuma bawa uang ngepas untuk transportasi dan akomodasi. Jadi budget beli oleh-oleh itu sering kali tidak terpikirkan. Kecuali kalau memang saya niat belanja dan menganggarkan duit lebih untuk beli-beli.

Tapi walaupun saya bilang seperti itu, kenyataannya selama ini saya seringkali membeli oleh-oleh tiap kali traveling. Labil ya saya? :D
Baik itu oleh-oleh untuk saya sendiri, maupun orang lain. Saya gak terlalu spesifik membeli suvenir untuk saya sendiri, bisa apa saja. Paling sering sih beli makanan, yang kolosal gitu, alias banyak jumlahnya. Selain saya bisa ikutan menikmati, oleh-oleh semacam gini bisa dibagi rata ke teman-teman, hehehe.

Selain makanan, kalaupun harus beli oleh-oleh buat orang lain, saya biasanya nyari sesuatu yang khas tempat itu. Ya walaupun cuma gantungan kunci atau pembatas buku, tapi minimal ada sesuatu yang khas. Misalnya, di Singapore ya belinya gantungan kunci Merlion, bukannya pembatas buku wayang. Atau di Bali, belinya ya lulur Bali. Walaupun sekarang sudah banyak sih yang jualan barang-barang suvenir semacam itu bukan di tempat aslinya.

Susahnya kalau di tempat itu gak ada sesuatu yang bener-bener khas. Seperti saat umroh misalnya, susah nyari oleh-oleh yang khas Arab. Sebagian besar suvenir yang dijual (kerudung, sajadah, tasbih, boneka onta, baju, kopyah, dll) ber-cap made in China, made in India, made in Turkey atau made in Indonesia. Mungkin yang memang otentik itu cuma air zam-zam dan kurma (itu saja sudah banyak dijual di Indonesia).

Ada satu barang di supermarket yang saya lihat made in KSA (Kingdom of Saudi Arabia) yaitu tasbih mutiara. Entah mutiara imitasi atau palsu, yang jelas harganya gak bersahabat sama budget. Ya sudah, bawa air zam-zam sama kurma saja cukup buat saya, sama sedikit printilan made in India dan made in Turkey :D

milih, bukan beli oleh-oleh

Sebaliknya, kalau ada teman traveling saya juga gak terlalu berharap dan 'memaksa' minta oleh-oleh. Kalaupun bilang, "jangan lupa oleh-oleh ya..." itu cuma ngomong di mulut saja. Dibawain ya alhamdulillah, enggak juga tidak apa-apa. Saya tahu dan sudah pernah ngalamin kok, beli dan bawa oleh-oleh itu kadang merepotkan. Tahu cerita atau foto teman yang lagi traveling sudah cukup menyenangkan kok. Apalagi kalau saya punya kesempatan ke tempat itu juga satu saat nanti :)


P.S: Dari pengamatan saya, yang biasanya rempong nyari oleh-oleh ini itu biasanya kaum hawa. Barang bawaan waktu pulang bisa lebih berat daripada waktu berangkat. Tanya kenapa? :D