Pages

Showing posts with label Jogja. Show all posts
Showing posts with label Jogja. Show all posts

Tuesday, February 11, 2014

Dowa Bag, Asli Lokal, Sudah Go International

Pertama kali saya kenal brand ini waktu jadi visitor Inacraft. Itu lhoo, event tahunan pameran barang kerajinan khas Indonesia yang diselenggarakan di JCC Senayan. Waktu itu saya lihat ada booth yang jualan tas rajut bagus bin kece dengan harga yang tidak murah :D. Banyak yang saya taksir dan pengen bawa pulang, tapi saat itu duit lagi cekak dan urusan membeli tas bukan prioritas *tsaaah*.

Dowa bag sendiri di Indonesia masih agak asing namanya. Tapi saya pernah baca di artikel koran, tas ini sudah mejeng di salah satu butik di New York dengan label The Sak. It means, kualitasnya memang sudah diakui di luar negeri sono.

Beberapa kali saya ke Jogja dan berkeinginan untuk "sekedar mampir" ke showroom Dowa, tapi gagal terus. Akhirnya liburan akhir Januari kemarin saya sukses mampir ke showroom Dowa yang di Jalan Godean. Sebetulnya di Jogja ada 3 showroom, dua diantaranya di Hotel Novotel dan Hotel Sheraton. Kalau dari arah tugu Jogja sih tinggal lempeng ke arah Jalan Godean sampai nemu Km 7 dan patokannya pom bensin Pertamina. Nah lokasinya ada di pinggir jalan. Tempatnya nyaman dan dari desain interior dan eksterior bangunan cukup menunjukkan sasaran kelas pasarnya tas Dowa ini :D

display tas

Selain tas, disini juga menjual pouch handphone, kantong dan dompet yang sebagian besar rajutan. Ada juga yang dibuat dari bahan kulit atau campuran rajut-kulit. Serunya, selain melihat tas, kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan tas-tas cakep itu. Dan semuanya dibuat secara handmade.

pembuatan tas Dowa ala handmade

Yang lebih enak lagi, disediakan cemilan dan minuman gratis disini. Jadi pembeli yang sudah capek mata memilih tas mana yang akan dibeli, calon pembeli yang capek hati ingin beli tas tapi masih berat di dompet, maupun pengunjung yang capek foto-foto tapi tidak beli, bisa istirahat dulu. Duduk manis sambil nyemil jajanan tradisional yang disediakan tanpa henti, dan tiap kali habis pasti diisi lagi. Ada klepon, jadah, bubur ketan item, cenil, lupis dan beberapa cookies lainnya. Bahkan ada cemilan berbentuk bungkusan daun, yang setelah saya tanyakan ternyata isinya nasi gudeg *iya, nasi dicemilin*. Lumayan sih ya, bisa jadi ganti makan siang.

Eits, tapi saya bukan sekedar free loader yang numpang nyemil gratis sampai kenyang. Saya beli satu tas yang paling menarik perhatian dan harganya feasible. Satu saja, cukup. At least ngidam tas Dowa dari kapan tahun terpenuhi juga akhirnya :D


Thursday, November 8, 2012

Belajar Sejarah di Museum Ullen Sentalu

Halo blog, kasian ya kamu lama gak disambangin yang punya *pukpuk pake tangan Zayn Malik*

Jadi gini, libur lebaran Idul Adha kemarin saya solo traveling ke Jogja. Salah satu kota favorit saya, setelah Malang tentunya :) Jadi sudah beberapa kali saya ke Jogja tapi rasanya tempat ini gak habis-habis pesonanya buat dieksplorasi *ini yang penduduk aslinya baca statemen saya bisa kembang-kempis idungnya*.

Nah, kali ini saya sempatin ke museum Ullen Sentalu yang terletak di wilayah taman wisata Kaliurang, sekitar 25 km dari pusat kota Jogja. Herannya, gak banyak warga Jogja sendiri yang tahu keberadaan museum ini. Sempat saya bertanya sama sopir bis ke arah Kaliurang gimana cara mencapai museum ini, eh dia tidak tahu. Oh iya, sangat jarang ada kendaraan umum yang melewati museum ini. Jadi bagi yang ingin kesana disarankan naik kendaraan pribadi saja.

Harga tiket masuk museum ini 25 ribu rupiah untuk dewasa, dan 15 ribu rupiah untuk anak-anak. Untuk visitor mancanegara tiketnya 50 ribu untuk dewasa dan 25 ribu untuk anak-anak (i'm wonderin teman saya satu ini bakal bayar berapa kalau kesini karena mukanya kayak turis korea #dikeplak). Cukup mahal ya untuk ukuran tiket masuk museum? But it's all worth it *trust me*.

tiket masuk museum

Ullen Sentalu sendiri adalah akronim dari "Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku" yang artinya “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Blencong itu lampu minyak yang biasa dipake pas wayang kulit.

kali ada yang penasaran blencong itu kyk gimana (source:wayang.wordpress.com)

Masuk museum ini kita bakal ditemani seorang guide. Di museum ini koleksi yang dipamerkan gak dikasih label. Agak menyusahkan sih ya, mana gak boleh ambil foto juga. Tapi guidenya menjelaskan dengan detail banget, sampai filosofi ruangan dan segala macamnya *kudos*. Kita bakal dibawa ke Ruang Seni Tari dan Gamelan yang isinya lukisan tari dan seperangkat gamelan *yaiyalah*. Kemudian masuk ke lorong bawah tanah Guwo Selo Giri kita akan disambut *halah* dengan lukisan dan foto dokumentasi tokoh kraton Dinasti Mataram Islam. Mulai dari kraton Yogyakarta, Surakarta, Paku Alaman dan Mangkunegaran. Sedih ya, ada satu kerajaan besar yaitu Mataram yang kemudian terpecah belah akibat politik devide et impera kolonial Belanda. Verdomme!

Menjelajahi ruangan dengan ditemani narasi guide yang lancar dan merepet cepat bagai petasan, saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang tokoh-tokoh keraton ini. Seperti misalnya sejarah Sultan HB IX yang sangat dicintai rakyatnya. Beliau menyumbangkan uang 6 juta gulden pada waktu itu untuk membantu negara RI yang barusan memproklamasikan kemerdekaannya. Gak cuma itu, saya juga baru tahu kalau lifestyle tokoh keraton jaman dulu itu tinggi. Seperti Raden Ayu Kuspariyah ibunda PB XII yang mahir piano dan biola, serta menguasai beberapa bahasa asing dengan mahir *mendadak pengen garuk dinding gua batu karena minder*. Dan masih banyak cerita menarik tentang tokoh lainnya yang dipajang di ruangan ini (cobalah iseng memperhatikan pigura dan lukisan lebih tajam, akan banyak detail menarik yang ada disitu).

Lokasi berikutnya adalah area Kampung Kambang, dimana setiap ruangan terletak di atas kolam air *yang bagi saya seperti selokan #merusakcerita #ditabok*. Ruangan pertama adalah Ruang Syair, yang diperuntukkan kepada GRAj Koes Sapariyam, putri PB XI, yang punya panggilan akrab Tineke. Ruang ini berisi syair yang ditujukan kepada Tineke dari kerabat dan teman-teman beliau karena saat itu beliau sedang bersedih akibat kisah cintanya tidak disetujui ibundanya. *Masuk akal banget sih kalo jaman dulu hiburan buat putri yang galau itu adalah syair-syair puisi. Maklum belum ada socmed #ngok*

Selanjutnya adalah Royal Room Ratu Mas yang dipersembahkan untuk permaisuri PB X. Ruangan ini berisi lukisan, foto dan koleksi barang pribadi permaisuri, yang ternyata menggambarkan bahwa beliau adalah wanita yang modis. Lanjut lagi ke dua ruangan yang khusus menampilkan koleksi batik, satu batik khas keraton Surakarta dan satu lagi khas keraton Yogyakarta. Nah bedanya apa? Ya beda dong, makanya dipajang di dua ruangan yang berbeda *not helping, sigh*.

Batik Solo itu warna dasarnya sogan atau kuning gelap, sedangkan batik Yogya warna dasarnya adalah putih. Pada dasarnya setiap motif batik tradisional itu ada filosofinya. Seperti Sidomukti yang maknanya mengandung harapan kebahagiaan lahir dan batin. Karena makna filosofisnya inilah, kain batik tidak boleh dipergunakan sembarangan. Motif Tuntrum misalnya, dipakai orang tua pengantin pada saat pernikahan karena bermakna menuntun. Diharapkan orang tua yang memakainya mampu memberi contoh dan petunjuk yang baik kepada putra-putrinya yang mau memasuki kehidupan berumah tangga *eaaa, bahasanya neng*.

Hosh hosh, lanjut ceritanya. Selanjutnya ruangan yang dimasuki adalah Ruang Putri Dambaan. Ruang ini dikhususkan untuk GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Soerjosoejarso -panggil saja Gusti Nurul- putri dari Mangkunegara VII. Sesuai nama ruangan ini, beliau memang dambaan banyak pria pada masa itu, kecantikannya sudah tersohor kemana-mana. Bahkan mungkin kalau saya hidup di jaman itu dan jadi laki-laki bisa jadi saya juga naksir beliau *halah banget*. Lha gimana gak jadi dambaan banyak pria, selain cantik beliau juga mahir tenis, berenang dan berkuda. Eits, jangan ngaco dengan menyebutkan kuda lumping, karena beliau memang mahir berkuda beneran bahkan sering memenangkan berbagai perlombaan. Gusti Nurul ini juga pernah menampilkan tari di pernikahan putri Juliana di Belanda. Karena gamelannya tidak boleh dibawa ke Belanda maka waktu itu Gusti Nurul menari dengan alunan gamelan dari telepon yang dimainkan di Solo.

foto Gusti Nurul sewaktu muda, dapet dari Google

Nah keren banget kan beliau ini, udah cantik, pintar menari, mahir berkuda, putri lagi. Gak heran Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX dan Sutan Sjahrir pun naksir. Tapi kerennya Gusti Nurul ini, beliau menolak karena berprinsip tidak mau dipoligami dan menolak menikahi politisi. Karena prinsip inilah beliau baru menikah di usia 30 tahun dengan pria pilihannya sendiri, Kolonel Soejarso yang bukan politisi dan bukan raja. Pilihannya adalah seorang lelaki sederhana *tsaaahh....opo iki?*.

Kemudian menuju ruang terakhir lewat Koridor Retja Landa yang banyak memajang arca dewa-dewi Hindu dan Budha dari abad 8 Masehi. Yang saya paling ingat adalah arca Ganesha dimana guidenya menjelaskan bahwa kenapa perut Ganesha digambarkan buncit, itu karena jaman dahulu dianggap disitulah tempat menyimpan ilmu dan kebijaksanaan. Saya sih dalam hati menganggap itu cuma pembelaan orang-orang jaman dulu yang berperut buncit :D
Dan ngomong-ngomong di belakang arca Ganesha ini ada kolam yang berisi ikan dan kecebong yang hampir sebanyak cendol, sudah mulai berkaki pula, hiiyyy #detailgakpenting.

Ruang terakhir adalah Sasana Sekar Bawana yang berisikan lukisan dan patung. Diantaranya adalah lukisan Sri Sultan HB X dan permaisuri Ratu Hemas sedang menerima kunjungan kenegaraan dari Pangeran Charles dan Putri Diana. Ada juga lukisan tari Bedaya Ketawang yang sakral dan agak mistis, karena menggambarkan 9 penari dan Kanjeng Ratu Kidul yang digambar menerawang sebagai penari kesepuluhnya.

Termasuk dalam paket tur museum Ullen Sentalu ini adalah pengunjung diberi kesempatan mencicipi minuman spesial resep khusus dari Kanjeng Ratu Mas. Minuman yang berasa di lidah saya campuran jahe, cengkeh dan gula jawa ini konon katanya bisa bikin sehat dan awet muda. Oiya pada saat tur saya sempat melihat ada ruangan khusus untuk anak-anak kecil belajar menari Jawa. Pengunjung museum pun diperbolehkan ikut belajar disitu, tapi pada waktu itu saya lebih milih foto-foto di taman dalam kompleks museum ini :hammer.



P.S: kalau ke Jogja lagi wajib kesini lagi, i LOVE this place definitely :)

Wednesday, January 6, 2010

Still Lotta Stories to Share

One of 2010's resolution of mine is sharing my travelling stories. I have lotta pending stories to share.
But my writing mood still doesn't strike me yet, dunno why :sigh:

Here are those pending travel stories:

Tour De Jogja-Semarang part 3

It is about the Gunung Kidul's beaches

Baron beach

Sundak beach

Krakal beach

Tour De Jogja-Semarang part 4

Ratu Boko temple

Prambanan temple

Serenity of Situgunung

Simply, the title says all ^_^

Situgunung Lake

Curug Sawer

The Unforgettable Ujung Genteng

The journey of eleven, very memorizable

Curug Cikaso

Ombak Tujuh beach


Road to Bali-Lombok

I ended up 2009 with such a beautiful moment at Bali and Lombok

Sunset at Kuta Beach

Pura Taman Ayun

Sengigi Beach at Lombok Island


Hope i could get my writing mood back soon ^_^

Saturday, August 15, 2009

Tour de Jogja-Semarang part 1

It's my first-official-backpacking-trip. I made plan with Elly since a few month ago to travel to Jogjakarta and Semarang, Central Java. And here I am now, starting my first day in Jogjakarta.
I went with bus from Cikarang yesterday afternoon. It took about 15 hours to arrive at Terminal Jombor, Jogjakarta. Yeah, what took us so long is the traffic jam.

Based on research we've done before, we looked for motel at Jl.Sosrowijayan. Poor for us, it was peak season n we haven't made any reservation yet. So we finally found a motel -kinda forget it's name-. We got a room with two beds, a fan and a bathroom inside, it is a bit stinky anyway, beggar cannot be chooser,huh? :D
Actually, there are soooo many motels there, it's just not our luck to get that room :D

Small tips for you, if you want to visit Jogja at peak season, make sure you already make a reservation first. You can see here just to compare the price cos as i said before, there are many cheap motels to choose. One recommended motel is "105 Homestay", it's placed at Sosrowijayan, clean, cheaper and a way more cozy than the motel i've stayed before.

After put our backpack at motel, we went to Kraton Jogja by pedicab. Fyi, there are hundreds of human pedicab here. And each of them will offer you a ride to go anywhere in Jogja. The one with us, took us to Kraton Jogja, Taman Sari and Benteng Vredeburg. And he waited for us while we were exploring those spots. Wew, felt like our own pedicab driver, but yes he was :D

First Spot: Kraton Jogja (Sultan Palace)


The Kraton Jogja, or in formal terms Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat is the principal residence of Sultan and his family. The current Sultan is Sri Sultan Hamengkubuwono X.
From its fancy halls, spacious courtyards and pavilion this Kraton looks oh-so-Javanese. And little touch of European style add enchanting value. No wonder this place captivates tourists, either local or foreign. There are some part of places inside Kraton that can be entered by tourists and some are prohibited. I wonder if i were Sultan's family and live in Kraton i would get distracted :D


Bangsal Kencana is one of prohibited part to enter, so i just took picture in front of it. Part of Kraton is used as museum and holds some collections such as gamelan instruments, royal carriages, etc. The museum contains collection of Sri Sultan Hamengkubuwono IX. We could see his pictures, medals of honor, suits, hobbies stuffs and so on.

In other part of museum there is a room that holds batik collection. A lady statue who is drawing batik welcomes us at the entrance. We could see dioramas of such procession, equipment to draw batik, some batik collections. Ah, and there is a well inside the room. Yea...i'm not joking, a well, and it is there in the room. It is an empty well, and trellised. I saw it's bottom though, and it's full of coins. According to the guide, peoples have superstition that throwing coins into the well will bring good luck or something. I dont know whether it is true or not, i didn't try it :D


One thing that would remind me most of Kraton Jogja is the abdi dalem. Abdi dalem are court servant who subjugate their services to Kraton, Sultan and his extended family. They are low-paid, but very loyal. A lot of them are getting old by ages, but their devotion do not faded at all.

I almost forget to mention about the shadow puppet show which was performed in Kraton. The shadow puppet or Wayang Kulit is one of Indonesian heritage that has been acknowledged by UNESCO as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Bravo Indonesia (^_^)V
Performance of shadow puppet show is accompanied by gamelan (musical ensemble from Indonesia, typically from Java or Bali). I dont know exactly what was they were playing, but some foreign tourists i saw seems like enjoying the show ^_^

Second Spot: Taman Sari (Water Castle)


Formerly, Taman Sari was a place for Sultan and his family's recreation. Other function is used as hiding place for royal family from enemy attack. Once we enter, there is spacious yard which was used for performing traditional dance (as said by the tour guide). Then we will enter the bathing pool, inner and outer pool. In outer pool there are two pools, one for children, one for women.

Between inner and outer pool there is building for Sultan. He might peep...oh no, i mean he might watch women swimming in the outer pool, then he might ask one of them to accompany him. To show which one he choose, Sultan throws her jasmine flower( there are lotta jasmine plants in the Taman Sari).

I wonder why does this building have no doors, in as much as the building consists of several rooms. The guide explained us that it's the philosophy of openness. Actually, there are many philosophy along with Javanese building, particularly this Taman Sari. The architecture itself is a mixture and symbolization of interfaith harmony.

Then we went to the underground tunnel by walking through narrow alley in Kampung or village around the site. The villagers sell batik craft here, batik clothes and batik paintings. The underground tunnel is such a passageways to the Sultan palace.

There is secret tunnel too, according to the legend it connects to South Sea or Laut Selatan (The Indian Ocean) where Nyai Roro Kidul lives. In Javanese folklore, Nyai Roro Kidul is a supernatural queen of the South Sea. But the secret tunnel now is closed.


In the tunnel we could see such a circle construction which formerly used as praying room. In the center of the the praying room, there is a well for ablution, but it's dry now.
Around the Taman Sari complex lies some ruins, and they've been restored.

Third Spot: Benteng Vredeburg (Vredeburg Fortress)


This museum is kinda quiet and spooky. Inside i only saw dioramas and i didn't explore more. Outside there are few people took some photographs, yeah...you know, museum, vintage style.
Once, when we're inside museum there's a moment which caused us run out. Kinda goosebumping because of spookiness :D

Fourth Spot: Alun Alun Kidul

After spooky moment inside Benteng Vredeburg, we went to Alun-Alun Kidul or The South Square. It is famous for the-walking-through-two-banyan-trees-with-eyes-closed attraction, lately i know this is called Masangin. The belief says that those who succesfully do it will get blessings.

After renting black scarf to close the eyes, i tried the Masangin, just for fun. And....yaayyy, i did it successfully. No cheating, no peeping, just walking quickly ^_^



Then we bought Ronde, a warm ginger-taste liquid containing peanut, bread chunks, sugar palm fruit, and rounded rice dough. Such a perfect beverage to accompany everyone while enjoying afternoon atmosphere at South Square. Not only beverages, food are sold here too. Leker(thin crispy pancakes), fried mushrooms, fried bananas, and many more.

We went back to motel at dusk. After cleaning up our body, we go to Malioboro for the reason of our hungry stomach. It's crowded there, pedestrians, pedicabs, horsecarts load the road. And many Lesehan lie along the pavements. They set up open front tents, lay out straw mat and put small tables to place the food.

While we're eating, some minstrels entertained us with their guitar and voice. What a wonderful way to end up this first blissful day at Jogja. Now it's time to sleep, take a rest. Another journey is still waiting tomorrow ^__^

Travelling expenses:
Cikarang - Jogja (Terminal Jombor) on bus = IDR 120K
Transjogja = IDR 3K
Motel rate = IDR 100K
Pedicab = IDR 15K /bargainable (a tip for you, choose older one, mostly they are very bargainable :D)

Entrance ticket:
Kraton Jogja = IDR 5K + 1K for camera
Taman Sari = IDR 3K + 20K for tour guide (5K is okay for them actually ~_~")
Benteng Vredeburg = IDR 1,5K

Food and beverage:
Ronde = IDR 3,5K
Snack(leker,fried mushroom,etc) = IDR 1K ~ 10K
Dinner at Malioboro = varies, from IDR 10K ~ 30K